Rabu, 24 April 2013

makalah INTERELASI ISLAM DAN JAWA DALAM SASTRA DAN WAYANG


INTERELASI ISLAM DAN JAWA DALAM SASTRA DAN WAYANG

MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Islam dan Budaya Jawa
Dosen Pengampu : M. Rikza Chamami, M.SI


Disusun Oleh :
Fatchul Amar                         (113211081)
Nurul Husna                           (123111129)
Nur Faizah Rahmawati           (123311035)
Wisnu Deni Kresnawati          (103911060)




FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2013



I.            PENDAHULUAN
Istilah sastra Jawa secara praktis diartikan sebagai suatu bentuk aktifitas tulis menulis dari para pujangga Jawa dalam mengungkapkan nilai-nilai dan pandangan hidup dalam lingkup budaya Jawa. Kebudayaan ini memiliki elemen-elemen amat majemuk yang berakar pada etika, agama-agama yang berkembang dalam masyarakat Jawa.
Selain sastra, salah satu bagian yang khas dari proses perkembangan budaya di Jawa adalah wayang. Bicara tentang esensi budaya Jawa dapat dirumuskan dalam satu kata wayang. Hal ini seolah-olah sudah menjadi dalil bagi para pakar budaya Jawa. Mempelajari dan memahami wayang merupakan syarat yang tan keno ora untuk menyelami buadaya Jawa. Baik etos Jawa, maupun pandangan hidup Jawa, tergambar dan terjalin dengan baik dalam wayang.
Pada kesempatan kali ini, pemakalah berusaha menjelaskan sekilas mengenai interelasi nilai Jawa dan Islam dalam aspek sastra dan pewayangan yang sedikit banyak akan dituliskan dalam makalah ini. Harapannya, semoga sedikit tulisan ini bisa menambah pengetahuan serta ilmu bagi para pembaca.
                    
II.            RUMUSAN MASALAH
A.      Apa pengertian sastra dan apa saja jenis-jenis sastra itu?
B.       Bagaimanakah gambaran karya sastra di Jawa?
C.       Bagaimana interelasi Islam dan Jawa dalam karya sastra?
D.      Bagaimanakah sejarah pewayangan?
E.       Apa sajakah jenis-jenis wayang dan unsur-unsur apa sajakah yang ada dalam pertunjukkan wayang?
F.     Bagaimana perpaduan seni Islam dan jawa serta bagaimanakah interelasi Islam dan Jawa dalam wayang?


III.            PEMBAHASAN
A.      Pengertian dan Jenis-Jenis Sastra
Kata ‘sastra’ dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta, yakni sas yang berarti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk/instruksi, dan tra yang berarti alat, atau sarana, sehingga sastra berarti alat untuk mengajar.
Sastra merupakan suatu kegiatan kreatif yang terkait dengan hal-hal yang tertulis maupun tercetak, termasuk karya sastra lisan. Istilah sastra jawa secara praktis diartikan sebagai suatu bentuk aktifitas tulis menulis dari para pujangga Jawa dalam mengungkapkan nilai-nilai dan pandangan hidup dalam lingkup budaya Jawa. Kebudayaan ini memiliki elemen-elemen amat majemuk yang berakar pada etika, agama-agama yang berkembang dalam masyarakat Jawa.
Amatzaki mengemukakan bahwa jenis-jenis sastra meliputi;
1.      Karya sastra yang berbentuk prosa
Prosa lebih dekat dengan pemaparan, dalam sebuah pemaparan dikatakan mengandung nilai karya sastra karena di dalam pemaparan terdapat deretan peristiwa yang disampaikan dalam rangkaian kalimat yang membentuk sebuah wacana, tidak berbentuk bait dan baris.
2.      Karya sastra yang berbentuk puisi
Herman J. Walujo mengemukakan bahwa puisi sebagai bentuk kesusastraan yang paling tua. Karya-karya besar dunia seperti Oedipus, Hamlet, Mahabarata, Ramayana dan sebagainya ditulis dalam bentuk puisi.
3.      Karya sastra yang berbentuk drama
Karya sastra yang berbentuk drama ditentukan dengan adanya dialog antar tokoh dan dapat dinikmati melalui sebuah pementasan.


B.       Gambaran Karya Sastra di Jawa
Telah diuraikan bahwa puisi merupakan karya sastra yang paling tua, demikian pula karya sastra yang ada di Jawa, puisi merupakan karya sastra yang paling tua yang lazim disebut dengan mantra. Setelah mantra, muncul karya sastra yang lain, diantaranya parikan dan wangsalan.
Setiap tradisi di setiap suku bangsa Indonesia memiliki konsep bagaimana orang berhubungan dengan hal-hal gaib seperti mantra. Selain mantra, karya sastra yang berbentuk puisi di Indonesia adalah pantun dan syair. Pantun dan syair menunjukan ikatan yang kuat dalam strukutur kebahasaan.
Dalam tradisi budaya Jawa, karya sastra yang menyerupai pantun dan syair adalah parikan dan wangsalan. Parikan merupakan puisi berupa pantun model Jawa, yang hanya ada saran bunyi pada dua baris yang lazim disebut dengan sampiran. Sementara itu, dalam wangsalan, dua baris pertama tidak hanya merupakan saran bunyi, tetapi merupakan teka-teki yang akan terjawab pada unsur-unsur isinya.

C.      Interelasi Islam dengan Karya-Karya Sastra Jawa
Bentuk puisi yang dipakai dalam membuat karya-karya sastra para pujangga kraton Surakarta adalah puisi Jawa yang memiliki metrum Islam, yaitu Mijil, Kinanthi, Pucung, Sinom, Asmaradana, Dhandhanggula, Pangkur, Maskumambang, Durma, Gatruh, dan Megatruh. Tembang-tembang macapat yang berbentuk puisi Jawa itu mengandung nilai sastra. Alasannya puisi pada hakikatnya adalah karya sastra, dan bersifat imajinatif. Maksud dari keterkaitan antara Islam dengan karya-karya sastra Jawa adalah keterkaitan yang sifatnya imperatif moral. Artinya, keterkaitan itu menunjukkan warna keseluruhan/corak yang mendominasi karya-karya sastra tersebut.[1]
Dengan unsur-unsur keislaman yang terdapat dalam literatur-literatur Araba tau Arab Kejawen (pegon) kemudian digubah ke dalam bahasa dan sastra Jawa serta dipadukan dengan alam pikiran Jawa. Perpaduan antara unsur-unsur Islam dan Jawa itu membuahkan karya-karya baru. Masa ini ditandai dengan terbitnya karangan-karangan baru dalam kesusastraan Jawa baru. Oleh karena itu, sistem yang ditempuh oleh keluarga-keluarga istana Surakarta dan calon pujangga kesusastraan Jawa baru biasanya melalui pesantren dan mempelajari kitab-kitab kesusastraan Jawa lama.[2]

D.      Sejarah Pewayangan
Menurut Robert Von Helne Geldern dan K. A. H. Hiding wayang sebagaimana yang dikenal sekarang ini merupakan sebuah warisan budaya nenek moyang yang sangat tua, yang diperkirakan telah ada kurang lebih 3.500 tahun yang lalu.
Wayang adalah sebuah wira carita yang pada intinya mengisahkan kepahlawanan para tokoh yang berwatak baik menghadapi dan menumpas tokoh yang berbuat jahat. Wayang yang telah melewati berbagai peristiwa sejarah dari generasi ke generasi menunjukkan betapa budaya pewayangan telah melekat dan menjadi bagian hidup bangsa Indonesia khususnya jawa.
Usia yang demikian panjang, kenyataannya sampai sekarang masih digemari banyak orang, ini menunjukkan bahwa wayang mempunyai nilai tinggi dan sangat berarti bagi kehidupan masyarakat. Wayang yang cerita pokoknya bersumber dari buku Ramayana dan Mahabarata berasal dari India.[3]
Pada perkembangannya, wayang berulang kali mengalami perubahan, diantara periodisasinya adalah:
1.             Zaman Prasejarah
Pertunjukkan wayang pada zaman ini semula digunakan untuk memuja arwah-arwah nenek moyang. Bentuknya dari kulit yang menyerupai arwah nenek moyang dan lakon yang dimainkan tentang kepahlawanan dan petualangan nenek moyang, di penteskan malam hari di tempat keramat dengan menggunakan bahasa jawa murni.
2.             Zaman Mataram Kuno
Fungsi wayang kuno bertambah dari fungsi magik dengan fungsi alat pendidikan dan komunikasi. Sumber ceritanya atau lakon ceritanya dari kitap Ramayana dan Mahabarata yang diberi sifat lokal (mereka menganggap para dewa atau pahlawan sejajar dengan nenek moyang mereka).
3.             Zaman Jawa Timur
Pertunjukkan wayang pada zaman ini sudah mencapai bentuk yang sempurna, sehingga dapat mengharukan hati penonton. Bahasa yang dipakai adalah bahasa jawa kuno dengan kata-kata sangsekerta.
4.             Zaman kedatangan islam
Sejak masuknya islam maka sarana kegiatan budaya jawa berupa wayang dianyam secara canggih untuk memasukkan ajaran islam dengan kata lain digunakan sebagai media dakwah. Cerita yang diambil dari cerita-cerita babad yakni mencampur adukkan cerita Ramayana dengan ajaran-ajaran islam. Babad berupa prosa (gancaran) yang berisi riwayat dan sejarah seperti babad tanah jawi, babad demak dan lain-lain.[4]

E.       Beberapa Jenis Wayang dan Unsur-Unsur dalam Pertunjukan Wayang
Menurut jenis aktor dan aktrisnya, jenis wayang digolongkan menjadi lima golongan, yakni:
a.    Wayang kulit (pelaku yang muncul adalah boneka dua dimensi yang terbuat dari kulit atau tulang belulang)
b.    Wayang golek (pelaku yang muncul adalah boneka tiga dimensi yang terbuat dari kayu)
c.    Wayang wong atau wayang orang (pelaku yang muncul adalah orang)
d.   Wayang beber (pelakunya hanya digambar diatas kertas lebar yang digulung dan dibeber atau direntang)
e.    Wayang klitik (pelaku yang muncul adalah boneka yang terbuat dari kayu pipih).[5]   

Adapun beberapa unsur pelaksana dan alat dalam pertunjukan wayang adalah:
a.          Dalang adalah seniman utama dalam pertunjukkan wayang. Ia melaksanakan tugas untuk menjalankan skenario atau lakon dalam pewayangan
b.         Niyaga atau wiyaga adalah sebutan bagi para penabuh gamelan yang mengiringi pertunjukkan wayang
c.          Pesinden adalah seniwati yang mengiringi suara gamelan pada pagelaran wayang
d.         Wayang kulit adalah wayang wayang yang terbuat dari belulang atau kulit kerbau atau kulit lembu yang digunakan untuk memernkan suatu tokoh
e.          Panggung dan kelir adalah layar yang ada didepan dalang yang lebarnya sekitar 160 cm
f.          Debog adalah pohon pisang dibawah kelir yang direntang secara horizontal dan dipakai untuk menancapkan wayang
g.         Blencong adalah nama bagi lampu minyak kelapa yang digunakan dalam pertunjukkan wayang
h.         Kotak adalah peti wayang yang terbuat dari kayu yang digunakan untuk menyimpan berbagai peralatan, misalnya: wayang, kelir cempolo, kepyak, dll.
i.           Cempala adalah sebuah alat yang terbuat dari kayu yang bentuknya silindris, yang digunakan untuk mengetuk kotak yang ada disamping dalang
j.           Kepyak adalah alat yang fungsinya hamper sama dengan cempala tetapi tempatnya sudah menempel pada kotak
k.         Gamelan adalah alat music tradisional yang digunakan untuk mengiringi pertunjukkan wayang.[6]
Wayang sebagai pertunjukan merupakan ungkapan dan peragaan pengalaman religius yang merangkum bahwa wayang dan pewayangan mengandung filsafat yang dalam dan dapat memberi peluang untuk melakukan filsafati dan mistis sekaligus.[7]

F.     Perpaduan Seni Islam dan Jawa (Wayang)
Ajaran islam yang masuk tanpa kekerasan dan bersifat terbuka terhadap unsur-unsur kebudayaan lama yang telah ada mempengaruhi wujud dalam seni yaitu pertunjukkan seni, khususnya wayang. Suatu hasil karya cipta yang sarat akan simbolisme terdapat pada bentuk gunungan atau kayon, karya tersebut merupakan hasil ciptaan sunan kalijaga pada tahun 1443 saka. Dibalik kayon tersebut terlihat sunggingan yang menggambarkan api menyala. Ini merupakan surya sangkala yang berbunyi “geni dadi sucineng jagad” yang berarti geni (api) berwatak tiga, dadi (samudra) yang berwatak empat, suci (air) yang berwatak empat, dan jagad berwatak satu. Jadi angka-angka tersebut menunjukkan 3411. Sengkalan tersebut sebagai pertanda bahwa kepandaian sunan kalijaga dalam memahami dan memasukkan nilai dalam seni pewayangan, karena beliau mengartikan 3411 adalah penciptaan gunungan yang dicetuskan beliau pada tahun 1443.
Selain hal diatas, para wali juga telah merubah bentuk wayang yang semula sebelu islam masuk bentuk wayang menyerupai manusia. Hal tersebut merupakan larangan dalam agama islam, maka beliau berinisiatif mengubah bentuk wayang menjadi bentuk yang seperti sekarang.
Prof. K. MA. Machfoel telah menguraikan tentang makna punakawan yaitu semar, petrok, gareng dan bagong. Keempat figur diatas sama sekali tidak terdapat dalam buku ramayana dan mahabarata yang menjadi sumber pewayangan aslinya. Munculnya figur ponakawan merupakan hasil kreasi para mubaligh islam, mereka berpendapat punikawan berasal dari bahasa arab.
Semar” berasal dari kata “ismar”yang berarti paku, yang berfungsi sebagai pengokoh yang goyah, ibarat ajaran islam yang didakwahkan para walisongo diseluruh kerajaan majapahit yang pada waktu itu sedang terjadi pergolakan dan berakhir didirikannya kerajaan demak. Ini berarti islam adalah pengokoh keselamatan dunia.
Gareng” berasal dari kata nara korin yang berarti memperoleh banyak teman, ini disimbolkan bahwa walisongo sebagai juru dakwah harus mempunyai tugas untuk mencari teman sebanyak-banyaknya untuk kembali kejalan Allah.
Petrok” berasal dari kata fatruk yang berasal dari wejangan tasawuf yang berbunyi fat-ruk kulla ma siwallahiI, yang artinya tinggalkan segala sesuatu selain Allah. Wejangan tersebut menjadi watak para mubaligh pada waktu itu.
Bagong” berasal dari kata baghaa” yang artinya berontak yaitu berontak kepada kebatilan atau kemungkaran pada waktu itu.
            Ditinjau dari makna diatas, jelas bahwa manusia memerlukan pamomong dalam perjalanan hidup untuk mendekatkan diri kepada Allah berupa bimbingan yang berasal dari Allah juga. Manusia juga harus menyadari bahwa dirinya itu adalah makhluk yang lemah dan memerlukan perlindungan, tanpa bimbingan dari Allah manusia akan tersesat.

G.    Interelasi islam dan jawa dalam wayang
Interelasi nilai dan islam dalam aspek wayang merupakan salah satu bagian yang khas dari proses perkembangan budaya Jawa. Wayang merupakan suatu prodak budaya manusia yang didalamnya tekandung seni estetis. Wayang berfungsi sebagai tontonan dan tuntunan kehidaupan.
            Bicara tentang esensi budaya jawa dapat dirumuskan dalam satu kata wayang. Jadi mempelajari dan memahami wayang merupakan syarat yang tan keno ora atau condotio sine quanon untuk menyelami budaya Jawa. Baik etos jawa maupun pandangan hidup jawa, tergambar dan teralin dalam wayang.
            Antara wayang dan budaya Jawa ibarat sekeping uang logam yang tak terpisahkan. Karena bagi masyarakat Jawa wayang tidak hanya sekedar hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan maupun media dakwah.
            Wayang mengandung makna lebih jauh dan mendalam karena mengungkapkan gambaran hidup semesta (wewayange urip). Wayang dapat memberikan gambaran lakon kehidupan umat manusia dengan segala masalahnya. Dalam dunia pewayangan tersimpan nilai-nilai pandangan hidup jawa dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan dalam kehidupan. Upaya untuk mencapai titik temu antara budaya jawa dan islam, yaitu singkatan sengkalan (sangkakala) tanda zaman, yakni sirno/ilang kertaning bumi yang dibaca terbalik yakni 1400 S atau 1478S.
            Itulah saat terjadinya peralihan kerajaan Majapahit ke kerajaan Demak, yang menurut mitos ditandai dengan hilangnya  sabda palon. Mitos itu sesungguhnya mengandung makna simbolik perihal wawasan kosmologis. Sabdo diartikan kata dan palon  diartikan wilayah. Sehingga sabdo palon diartikan konsep tentang ruang dan waktu. Perubahan Majapahit ke Demak membawa implikasi baru yang lebih luas melalui hindu menuju islam. jimat kalimasada yang bersal dari kata kali maha sada ditransformasikan menjadi kalimat syahadat atau tradisi sekaten yang berasal dari kata Nyi sekati diubah menjadi syahadataen. Sedangkan nilai-nilai spirit islam dalam di lihat dari dua hal yaitu: simbolisme dalam wayang kulit dan tokoh-tokoh dalam wayang kulit.[8]
Kita semua mengetahui, bahwa bagi masyarakat Jawa, wayang tidaklah hanya sekedar tontonan, tetapi juga tuntunan. Wayang bukan sekedar sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai media komunikasi, media penyuluhan dan media pendidikan. Oleh karena itu, melihat pertunjukan wayang ataupun sekedar mendengarkan kaset rekaman wayang, tidak pernah membosankan meskipun cerita atu lakonnya hanya itu-itu saja.[9]
Wayang mengajarkan filsafat laku yang bersumber dari rasa dan hati nurani manusia yang paling dalam, sehingga ruang humanisme semakin terbuka di dalamnya, manusia diupayakan untuk mencintai seluruh makhluk yang ada di atas bumi ini. Karena manusia menjadi seorang pengelola di atas bumi ini yang memiliki tanggung jawab untuk melakukan semua dengan baik.[10]
 Wayang sekarang tidak hanya milik orang Jawa, namun sudah menjadi kebanggan bangsa Indonesia. Untuk itu, kita patut menjaga dan melestarikannya.



 IV.            PENUTUP
Sastra merupakan suatu kegiatan kreatif yang terkait dengan hal-hal yang tertulis maupun tercetak, termasuk karya sastra lisan. Istilah sastra jawa secara praktis diartikan sebagai suatu bentuk aktifitas tulis menulis dari para pujangga Jawa dalam mengungkapkan nilai-nilai dan pandangan hidup dalam lingkup budaya Jawa. Sastra bisa berbentuk puisi, prosa dan drama. Di antara contoh karya sastra Jawa dengan metrum Islam adalah Mijil, Kinanthi, Pucung, Sinom, Asmaradana, Dhandhanggula, Pangkur, Maskumambang, Durma, Gatruh, dan Megatruh.
Wayang adalah sebuah wira carita yang pada intinya mengisahkan kepahlawanan para tokoh yang berwatak baik menghadapi dan menumpas tokoh yang berbuat jahat. Di antara jenis-jenis wayang adalah wayang kulit, golek, wong, dan klitik. Ajaran islam yang masuk tanpa kekerasan dan bersifat terbuka terhadap unsur-unsur kebudayaan lama yang telah ada mempengaruhi wujud dalam seni yaitu seni pertunjukkan khususnya wayang.


















DAFTAR PUSTAKA
Amrin Ra’uf, Jagad Wayang, Jogjakarta: Garailmu, 2010

Budiono Herusatoto, Mitolog Jawa, Depok: Oncor Semesta Ilmu, 2012

Darori Amin, dkk, Islam dan Budaya Jawa, Yogyakarta:Gama Media, 2000

Dhanu Priyo Ptrabowo, Pengaruh Islam Dalam Karya-Karya R.Ng. Ranggawarsita, Yogyakarta: NARASI, 2003

Edi Sedyawati, dkk, SejarahKebudayaan Indonesia, Jakarta: Rajawali Pers, 2009

Heniy Astiyanto, Filsafat Jawa: Menggali Butir-Butir Kearifan Lokal, Yogyakarta: Warta Pusaka 2006

Sujamto, Wayang dan Budaya Jawa, Semarang; Dahara Prize, 1992

Tim Pangripta Basa Jawa, kawruh Basa Jawa, Surakarta: Setiaki, 1999 
BIODATA PEMAKALAH

1.      Nama                           : WISNU DENI KRESNAWATI
NIM                            : 103911060
Jurusan                        : PGMI
TTL                             : Pati, 6 Juni 1992
Alamat                         : Ds. Dukutalit Rt. 05/Rw.02 Juwana-Pati
Pendidikan
Ø  SD                  : SD N Dukutalit 02 Juwana
Ø  SMP               : SMPN 02 Juwana
Ø  SMA               : MA Mathali’ul Falah Juwana
Ø  S1                   : IAIN Walisongo Semarang
No. Hp                        : 089 982 252 431
E-mail                          : Deni.kresnawati@yahoo.com

2.      Nama                           : NURUL HUSNA
NIM                            : 123111129
Jurusan                        : Pendidikan Agama Islam
TTL                             : Rembang, 23 Desember 1994
Alamat                                    : Ds. Gandrirojo, Sedan, Rembang
Pendidikan
Ø  SD                   : MI YSPIS Gandrirojo, Sedan, Rembang
Ø  SMP                : MTs YSPIS Gandrirojo, Sedan, Rembang
Ø  SMA               : MA YSPIS Gandrirojo, Sedan, Rembang
Ø  S1                    : IAIN Walisongo Semarang
No. Hp                       : 089 857 074 50
E-mail                          : uyunknurulhusna@yahoo.com

3.      Nama                           : FATCHUL AMAR
NIM                            : 113211081
Jurusan                        : Pendidikan Bahasa Arab
TTL                             : Demak, 26 Oktober 1993
Alamat                                    : Ds. Kenduren Rt. 06/Rw.03, Wedung, Demak
Pendidikan
Ø  SD                   : MI NU Salafiyah Kenduren
Ø  SMP                : MTs NU Salafiyah Kenduren
Ø  SMA               : MA NU Salafiyah Kenduren NU Salafiyah
Ø  S1                    : IAIN Walisongo Semarang
No. Hp                                    : 085 740 641 064
E-mail                          : fatchulamar@yahoo.com

4.      Nama                           : Nur Faizah Rahmawati
NIM                            : 123311035
Jurusan                        : Pendidikan Bahasa Arab
TTL                             : Rembang, 18 Januari 1993
Alamat                         : Ds, Bonang – Lasem - Rembang
Pendidikan
Ø  SD                   : SD Bonang
Ø  SMP                : MTs Raudlatul Ulum Guyangan
Ø  SMA               : MA Raudlatul Ulum Guyangan
Ø  S1                   : IAIN Walisongo Semarang
No. Hp                                    : 085726 802 342
E-mail                          : faizah_nurrahma@yahoo.com


[1] Darori Amin, dkk, Islam dan Budaya Jawa, (Yogyakarta:Gama Media, 2000), hlm. 150-151
[2] Dhanu Priyo Ptrabowo, Pengaruh Islam Dalam Karya-Karya R.Ng. Ranggawarsita, (Yogyakarta: NARASI, 2003), hlm. 6
[3] Burhan Nugiantoro, Transformasi Unsur Pewayangan Dalam Fiksi Indonesia, hlm. 24.
[4] Budiono Herusatoto, Mitolog Jawa, (Depok: Oncor Semesta Ilmu, 2012), hlm. 5.
[5] Edi Sedyawati, dkk, SejarahKebudayaan Indonesia, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hlm. 35-39.
[6] Tim Pangripta Basa Jawa, kawruh Basa Jawa, (Surakarta: Setiaki, 1999), hlm. 64.
[7] Heniy Astiyanto, Filsafat Jawa: Menggali Butir-Butir Kearifan Lokal, (Yogyakarta: Warta Pusaka 2006), hlm. 364
[8] Darori Amin, dkk, Islam dan Budaya Jawa,  hlm. 173.
[9] Sujamto, Wayang dan Budaya Jawa, (Semarang; Dahara Prize, 1992), hlm. 26-27
[10] Amrin Ra’uf, Jagad Wayang, (Jogjakarta: Garailmu, 2010), hlm. 78

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar