Rabu, 20 Mei 2015

Kebangkitan Pendidikan

Mengembalikan Khitah Pendidik
Oleh: Nur Faizah Rahmawati
Mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam UIN Walisongo Semarang dan Sekretaris Direktur TPQ Bina Insani Semarang

Ada benarnya jika Menteri Pendidikan Dasar Menengah dan Kebudayaan Anies Baswedan, menyatakan bahwa pendidikan bangsa Indonesia gawat darurat. Ungkapan tersebut sebenarnya telah menguatkan pendapat Gus Dur, yang menyatakan bahwa pendidikan Indonesia kritis. Persepsi itu juga tidak tanpa alasan, jika ditelaah lebih dalam, ternyata pendidikan nasional masih jauh dari harapan masyarakat. Solusinya, khitah pendidik harus dikembalikan.
Terlepas dari semua itu, keberhasilan pendidikan adalah kemampuan mengaplikasikan atas apa yang sudah diajarkan, baik itu peserta didik ataupun pendidik. Jika antara peserta didik dan pendidik sudah mampu melampaui indikator keberhasilan pendidikan, maka sistem yang telah ditetapkan tidak perlu diotak-atik lagi. Namun, realitas yang terjadi adalah setiap pergantian Kementerian Pendidikan sistemnya pun selalu berganti. Entah itu karena adanya evaluasi pendidikan atau memang hanya karena permainan politik belaka, yang pasti pendidikan selalu berubah-ubah.
Kenyataan ini setidaknya merujuk pada pergantian kurikulum 2013, yang kehadirannya justru hanya menambah permasalahan yang ada. Sehingga, dalam konteks ini  menteri pendidikan harus memberikan terobosan baru terkait permasalahan yang terjadi. Sebab, realitas ini menimbulkan kebingungan steakholder. Alhasil, realitas ini mencederai pelaksanaan sistem pendidikan yang cenderung sak karepe dewe.
Mengalami Disorientasi
Dengan kondisi sistem pendidikan yang seperti itu, seharusnya mampu menstimulus pendidik untuk berjuang mengembalikan tujuan pendidikan. Sebab, tujuan pendidikan Indonesia sangatlah holistik dan mulia, sebagaimana yang tercantum dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 1. Yakni, Pendidikan yang mampu menjadikan peserta didik memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara. Namun yang terjadi, pendidik justru tidak mau repot menerjemahkan tujuan pendidikan tersebut ke dalam aplikasi kegiatan belajar mengajar. Sehingga, yang terjadi adalah degradasi khittah pendidik yang notabene mempunyai tugas moral untuk mendidik, melindungi, mengajar, dan memberi arahan.
Al-Ghozali mengatakan, bahwa pendidik adalah orang yang mengetahui seluk beluk anak didiknya, baik itu kualitas intelektualnya, keluarganya, maupun pribadinya. Jika seluruh pendidik yang ada di negeri ini mampu menerapkan kriteria pendidik menurut al-Ghazali, maka pendidik tidak perlu lagi mengikuti pemerintah yang seringkali tidak jelas. Sebab, pendidik sudah mengetahui apa yang diperlukan peserta didik dan apa yang seharusnya dilakukan.
Terlepas dari kebutuhan peserta didik, permasalahan lain yang sedang melanda  pendidik adalah virus sovis. Setidaknya, virus ini semakin marak pasca kebijakan pemerintah yang tercantum dalam UU No. 14 Tahun 2005. UU tersebut menjelaskan tentang kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik professional. Keprofesionalan pendidik inilah, yang tidak bisa ditangkap dengan baik oleh para pendidik.
Alhasil, adanya sertifikasi pendidik yang idealnya harus disikapi dengan keprofesional pendidik, setidaknya justru semakin mengecewakan kepercayaan negara. Sebab, gaji dan tunjangan yang layak dari sertifikasi tersebut, diharapkan para pendidik focus terhadap tugas dan tanggungjawabnya sebagai pendidik. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya, fasilitas dari Negara tersebut tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. Hal inilah yang menyebabkan dunia pendidikan Indonesia tidak kunjung tercerahkan.
Sebenarnya sikap professional yang harus dimiliki pendidik ini juga harus berjalan beriringan dengan kompetensi pendidik lainnya. Sebab, adanya kompetensi-kompetensi yang memang harus dimiliki oleh seorang pendidik, sudah jelas.
Dalam konteks ini, setidaknya bangsa Indonesia harus bisa berkaca pada Paulo Freire yang berani berjihad di dunia pendidikan dengan keadaannya yang miskin. Berangkat dari keadaan itulah, setidaknya mampu memperoleh hasil maksimal, sehingga mampu mengangkat derajat pendidikan di Brazil. Keadaan tersebut, tentunya berbanding terbalik dengan pendidik di Indonesia. Yang sebagian besar memprioritaskan besaran honor. Akibatnya adalah hak peserta didik seringkali dikesampingkan.
Dan ketika realitas itu terjadi. Maka, secara tidak langsung akan melemahkan kualitas generasi bangsa. Padahal, generasi bangsa adalah masa depan Negara. Sehingga, ketika generasi lemah, maka tidak menutup kemungkinan akan menghancurkan Indonesia. Sebagaimana yang dikatakan oleh J.J Rousseau bahwa, perbaikan masyarakat hanya bisa dilakukan melalui pendidikan. Dalam internal pendidikan, keberhasilan pendidikan bergantung di pundak pendidik, setidaknya hal ini yang pernah digagas oleh Yudi Latif dan Romo Benny Susetyo. Oleh sebab itu, diperlukan pendidik yang mendidik dengan panggilan hati, bukan karena profesi.
Terlepas dari permaslahan yang kian kompleks tersebut, setidaknya keberhasilan sistem pendidikan tidak hanya bertumpu pada satu komponen (pendidik) saja. Oleh karena pendidikan merupakan tolak ukur kemajuan suatu negara dan merupakan masalah urgen, maka perlu adanya sinergitas seluruh steakholder untuk mencapai sebuah tujuan pendidikan yang mulia. Keberhasilan pendidikan mampu dilihat dari indikator yang kasat mata, yaitu kualitas SDM-nya. Bukan berarti mendewakan kualitas SDM hanya pada satu aspek saja. Namun, keberhasilan yang kasat mata tersebut hendaknya mampu membantah pernyataan Moh. Hatta bahwa, masyarakat Indonesia cerdas yang tercerabut dari akarnya
Melihat kebijakan yang sering diambil pemerintah ternyata tidak mampu menyelesaikan permasalahan diatas maka, pemerintah harus membuat program baru untuk memperbaiki kualitas pendidik. Sehingga, dalam konteks apapun mereka mampu menjalankan peran dan fungsinya secara keseluruhan. Selain itu, pemerintah juga harus bisa memastikan bahwa pendidik sudah bekerja dengan hati, bukan karena profesi entah bagaimanapun caranya.
Selain kebijakan pemerintah, upaya yang bisa diambil adalah meningkatkan pelayanan maksimal di perguruan tinggi yang notabene sebagai ingkubator calon pendidik. Hal ini diharapkan mampu mematangkan mental maupun kesiapan ketika terjun ke dunia nyata. Kesiapan tersebut sangat erat kaitannya dengan hasil yang akan dihasilkan. Sebab, ketika tidak ada kesiapan, baik mental maupun kualitas, sudah selayaknya berakibat buruk pada dunia pendidikan Indonesia.

Ketika keadaan pendidikan membruk maka, mampu menimbulkan kematian Indonesia. Oleh sebab itu, untuk mengembalikan khittah pendidik sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, diperlukan kesadaran lebih dari para pendidik Indonesia. Setidaknya berkontribusi mempersiapkan mental SDM negeri untuk menyambut MEA (Masyarakat Ekonomi Asia) dan dapat membuktikan sebagai negara yang mampu mencapai target program educational for all dari UNESCO (Kompas/2/5) . Waallahu a’lam bi al shawab

Untukmu, Perempuan!

Mengendus Gerak Perempuan di Senayan
Oleh : Nur Faizah Rahmawati
Direktur APPI Monash Institute (Aliansi Pemimpin Perempuan Idealis Monash Institute), Aktif di LeSAN (Lembaga Studi Agama dan Nasionalisme), Mahasiswi Kependidikan Islam  UIN Walisongo Semarang.
Berdirinya bangsa dan negara tidak bisa dilepaskan dari peran kaum perempuan. Artinya, perempuan merupakan tiang negara. Baik buruknya suatu bangsa, mampu ditentukan oleh seorang wanita. Hal ini senada dengan Ir. Soekarno yang mengungkapkan bahwa baik-buruknya suatu bangsa dan negara tergantung pada kaum wanita. Banyak contoh yang mencerminkan bahwa eksistensi atau sentuhan perempuan sangat dibutuhkan. Misalkan dalam kehidupan nyata, perempuan adalah sekolah pertama bagi anak. Tak hanya itu, perempuan sebagai bagian kehidupan bernegara ikut bertanggungjawab membawa negeri ini ke depan pintu gerbang kemajuan, menuju ketinggian peradaban.
Sejarah Indonesia mencatat bahwa setiap peristiwa penting yang terjadi di negeri ini, kaun perempuan selalu ikut di dalamnya. Tentu kita masih mengingat bagaimana kiprah kaum wanita pada masa orde baru. Saat itu, sayap kekuatan politik Soekarno ada di dua kubu, yakni Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia). Bahkan sesungguhnya gerakan wanita sudah muncul sebelum Indonesia merdeka. Salah satu contohnya adalah “Puteri Mardiko” yang didirikan oleh Boediono pada tahun 1912. Salah satu tujuan organisasi ini adalah untuk mengangkat derajat kaum wanita sekaligus memberikan wadah bagi mereka untuk berekspresi, kreasi, inovasi dan tentunya memerdekakan bumi pertiwi.
Jadi, di era modern seperti sekarang ini, memandang wanita sebelah mata sudah tidak zamannya lagi. Namun, mau tidak mau kita harus katakan bahwa masyarakat masih  memandang sebelah mata eksistensi perempuan.  Tugas perempuan itu di kasur, dapur, dan sumur. Ironisnya, kaum wanita pun juga ikut mengamini. Konstruksi masyarakat terutama kaum adam mengatakan bahwa tugas kaum hawa itu di kasur, sumur dan dapur sungguh merupakan kesalahan yang patut kita luruskan. Sebab, diakui mapun tidak, doktrin tersebut telah mengakar sekaligus sudah menjadi budaya. Inilah yang terjadi saat ini sehingga doktrin tersebut menancap sekaligus menjadi momok bagi kaum wanita. Jangankan untuk negara, mengurusi diri sendiri saja belum tentu bisa.
Sama Kuatnya
Menjadi perempuan bukanlah sebuah pilihan. Wanita itu mulia, saking mulianya Nabi Muhammad saw. Ketika ditanya sahabat tentang siapa yang paling mulia di bumi ini. Nabi Muhammad menjawab: “Ibu, Ibu, Ibu, tiga kali baru bapak. Bahkan Almarhum Ustadz Jefri Al Buchori mengatakan: “Jika Dilahirkan Kembali, Aku Ingin Menjadi Perempuan”.
Dua pernyataan tokoh diatas secara tegas dan lugas mencerminkan betapa mulianya menjadi perempuan. Bagi perempuan dua “senjata” tersebut tentunya harus dijadikan pijakan atau motivasi bahwa perempuan adalah sosok yang kuat. Antara laki-laki dan perempuan memang terdapat perbedaan tugas tanggung jawab, perempuan melahirkan dan laki-laki mencari rizki. Jika menggunakan istilah Mansour Fakih mengenai gender, maka perbedaan itu terdapat pada jenis kelamin yang kemudian menurunkan pembagian tugas kodrati saja. Namun, jika menggunkan makna gender yang cenderung menyoal tentang peran, maka antara perempuan dan laki-laki tidak ada perbedaan.
Pembahasan mengenai politik dewasa ini menjadi tren. Bagaimana tidak. Harga tahu, tempe, kemajuan pendidikan, bahkan posisi perempuan sekalipun tergantung keputusan politik. Pertanyaannya, sejauh mana kiprah perempuan dalam politik? Dalam kancah politik memang sangat jarang menemukan perempuan yang total di dalam. Hal ini disebabkan oleh paradigma perempuan yang sudah terpatri dalam setiap individu bahwa kesuksesan wanita itu ada di rumah tangga. Hal inilah yang menghambat minat perempuan untuk “keluar”. Padahal kalau berbicara kemampuan, Tuhan memberikan kapasitas yang sama antara kemampuan laki-laki dan perempuan dalam organ sentral yang bernama otak. Sehingga, alasan kapasitas tidak bisa dijadikan alasan untuk membedakan. Abraham Maslow dalam Hirarki Kebutuhannya, setiap orang mempunyai hak yang sama dalam mengaktualisasikan dirinya, termasuk perempuan.
Keenggangan perempuan yang mempunyai kapasitas yang memadai inilah yang membuat kondisi negara semakin memburuk. Hal ini senada dengan politisi dari kalangan akademisi, Anis Baswedan yang mengungkapkan bahwa, kerusakan negara ini bukan karena bertambahnya penjahat maupun koruptor, namun orang baik yang tidak mau berpolitik. Maka tak heran jika setiap hari kita disuguhi pemberitaan banyak pejabat terjerat korupsi. Pasalnya, negara ini diurus oleh orang-orang jahat yang berpolitik ala Machiavelli.
Pacu Perempuan Berpolitik
Apabila perempuan-perempuan yang notabene berhati lembut, mulia tidak berkenan mengurus negara, maka dukunglah perempuan-perempuan yang mempunyai niat mulia tersebut. Harapanya adalah perempuan mampu mengabdi untuk negeri, membawa kemajuan negeri, dan membenahi tatanan negara yang semakin “ngeri” ini. Rieka Diah Pitaloka di senayan, Tri Rismaharini di Surabaya, Rusti Ningsih di Jawa Tengah dan masih banyak lainnnya perempuan yang ikut berpolitik. Sederet nama tersebut menununjukkan bahwa perempuan bisa.

Seandainya para perempuan saja sudah tidak menaruh kepercayaan kepada perempuan, terus mau menunggu sampai kapan ada perempuan di depan? Sampai kapan Indonesia akan mempunyai sosok Tarja Halonen yang mampu memimpin Finlandia selama 14 tahun 10 hari? Inilah yang perlu disadari oleh para perempuan, berikanlah kepercayaan kepada perempuan-perempuan yang mendedikasikan diri untuk negeri. Mari bersama-sama mendukung para bidadari berhati mulia untuk membangun negeri. Wa Allahu Al a’lam bi al shawwab.

Selasa, 17 Maret 2015

Tradisi Bende Becak Sunan Bonang












Suasana perayaan "Bende Becak" di desa Bonang Lasem Rembang

Ikrarku

Rintikan hujan petang ini telah mendeklarasikan diri
Sebagai saksi bisu perjuangan anak manusia 
Yang berusaha menjauhi bisingan kefanaan ini
Bukan sekali ini, sudah berhari-hari
Bahkan bertahun-tahun
Entah mengapa terasa bukan duniaku, awalnya
Namun, ikrarkulah yang menyadarkan
Bahwa duniaku inilah yang harusaku jalani.
Iya, ikrar jiwa dan raguku kepada ummat
Semoga menjadi manusia amanah
Sekalipun dengan tiga amanah dalam satu masa
Inilah ikrar yang dulu pernah kusanggupi

Ayah, inilah anakmu
Sudah lama aku ingin berlabuh dipangkuanmu
Mencurahkan segala yang aku lalui dalam permainan dunia
Yang harus aku menangkan!
Iya, memenangkan setiap permainan yang aku ikuti


  
"Dan Tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" (Q.S Al-An'am : 32)




Rabu, 22 Januari 2014

Refleksi dari Aksi yang Ada

Mendambakan Kemandirian Bangsa
Oleh: Nur Faizah Rahmawati
Mahasiswi Kependidikan Islam Fakultas FITK IAIN Walisongo Semarang, Staff Pengajar di PAUD Islam Mellatena
Manusia memang mengalami beberapa fase dalam hidup. Mulai dari fase prenatal, kandungan, bayi, anak-anak, remaja, dewasa, dan tua. Keinginan ketika masih kecil adalah datangnya masa remaja. Begitupun ketika remaja datang. Masa dewasa merupakan saat yang dinantikan oleh kebanyakan manusia yang berada pada fase remaja. Sebab, pada fase inilah semua orang mengalami kematangan, baik itu kematangan secara emosional, sosial, intelektual, maupun kematangan fungsional organ. Namun, kematangan tersebut tentunya tidak terlepas dari dunia pendidikan.
Dalam jenjang pendidikan biasanya dikatakan dewasa ketika menduduki status mahasiswa. Disinilah semua pertarungan berbagai komponen dalam diri biasanya terjadi. Tidak jarang pula ada disorientasi dalam belajar. Seperti munculnya permasalahan yang terkadang mafhum bila terjadi, yaitu muncul rasa gengsi yang tinggi ikut mewarnai kehidupan sehari-hari. Hal ini ditunjukkan dengan adanya anggapan bahwa kehebatan itu melalui eksistensi. Memang hal yang demikian itu seharusnya dimiliki oleh manusia, seperti halnya yang dikatakan Rene Descrates bahwa ‘’aku berfikir maka aku ada’’. Namun keberadaan tersebut secara lahiriyah berdasarkan kebergunaan akal manusia, bukan hanya sebatas raga saja. Hal inilah yang sering dilupakan oleh bangsa ini, terutama kalangan mahasiswa. Biasanya ditandai dengan sikap mengesampingkan akademik.
Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan mahasiswa menempati posisi pioneer dan agent of development. Posisi tersebut menunjukkan bahwa tanggungjawab yang harus dipikul oleh mahasiswa sangatlah besar. Sebab, selain bertanggung jawab kepada dirinya sendiri, mereka juga harus bertanggung jawab kepada masyarakat, dan negara. neggara sudah terlalu percaya kepada keberadaan mahasiswa yang notabene sebagai agent sosial of change.
Sebenarnya masyarakat sangat menunggu aksi besar mahasiswa sebagai pembawa pembaharuan, terutama dalam tatanan pemerintahan. Dalam hal ini mahasiswa dituntun sebagai pengontrol adanya kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah, meskipun sudah ada Depan Perwakilan Rakyat. Oleh karena itu mahasiswa diharuskan mempunyai pemikiran yang idealis, memegang teguh independensi, dan mmpunyai kemandirian dalam hal finansial.
Dalam pencapaian kemandirian tersebut harus ada usaha maksimal dari diri mahasiswa. Seperti halnya kesungguhan dalam studi, melibatkan diri dalam organisasi, berpatron dengan orang yang baik, dan mengupayakan finansial dari diri sendiri. Alasan mengapa usaha tersebut harus dilakukan oleh tunas bangsa adalah semata-mata sebagai investasi masa depan untuk membentuk pemimpin-pemimpin yang baik agar nantinya mampu membawa pencerahan untuk negri ini. Sehingga tidak ada lagi istilah “perbudakan kau intelektual”. Namun, yang pantas disayangkan adalah kebanyakan kaum intelek justru yang mempunyai akal licik untuk membohongi masyarakat. Sifat yang demikian itu merupakan akibat dari penghambaan kaum intelek kepada uang. Sehingga ketika mempunyai kuasa justru ia tak kuasa.
Sebagai langkah awal pembenahan bangsa atas apa saja yang terjadi di negeri ini adalah pembentukan individu yang utuh melalui pendidikan. Sebagaimana yang dituliskan oleh Umar At-Taumi adalah tujuan tertinggi pendidikan adalah membentuk individu yang utuh. Wa Allahu al A’lam bi al Shawwab


Selasa, 21 Januari 2014

Judul buku    : Studi Islam Kontemporer
Pengarang    : M. Rikza Chamami, MSI
Penerbit        : Pustaka Rizki Putra
Tahun terbit  : 2012
Kota terbit     : Semarang
Cetakan ke-   : I, Desember 2012
Jumlah hlm.  : 227 halaman
Peresensi       : Nur Faizah Rahmawati

    
                                                              Studi Islam Kontemporer

Islam mempunyai banyak sekali sesuatu yang membuat semua orang penasaran tentang apa yang selalu menjadi buah bibir, bahkan tidak jarang menimbulkan pro ataupun kontra. Islam mampu menurunkan banyak interpretasasi tentang banyak hal, diantaranya adalah masalah ritual(syari’at), etika(akhlak), berkehidupan (muamalat). Islam sebagai millah (ajaran) ad-dink (agama), kebudayaan, peradaban, bahkan mengilhami manusia selalu berfikir (filsafat). Sehingga apabila berbicara mengenai Islam sudah bisa dipastikan tidak akan habis, karena memang mempunyai kekayaan /khazanah keIslaman.
Khazanah keIslaman memang sangat beragam, hal inilah yang memicu banyak perdebatan. Namun, jika ditarik sisi positifnya perdebatan tersebut mampu memotivasi umat manusia untuk selalu mencari dan mencari. Dalam buku “Studi Islam Kontemporer” karya M. Rikza Chamami, M.SI mampu memberikan sudut pandang lain mengenai keIslaman yang bersifat historis, mistis, informatif, edukatif, serta pendorong melakukan observatif. Dari peristiwa yang sudah berlalu tersebut, ayah dari Ijlal dan Nayya ini merepresentasikan peristiwa apa saja yang pernah terjadi yang masih perlu dikaji ulang untuk masa sekarang.
Rasa bahasa (sense) dari seorang pria kelahiran kudus, 20 maret 1980 ini sangatlah pas jika disuguhkan kepada semua kalangan, tidak hanya kalangan mahasiswa saja, namun semua kalangan luas yang penasaran akan khazanah keIslaman. Rangkaian kata yang sederhana, deskripsi peristiwa yang sangat singkat, dan pencuplikan buku-buku babon sangatlah bisa meyakinkan khalayak umum.
Dalam buku tersebut, sekretaris laboratorium ini mencoba membawa pemnbaca menyelami peristiwa penting serta membuka pandangan dari flash back kepada realitas sekarang ini. Seperti halnya dalam bab sepuluh memaparkan peradaban Islam yang seolah-olah memberikan sentilan kepada umat Islam sekarang untuk mengembalikan bangunan fundamental yang tidak hanya berorientasi pada materi saja, namun kepuasan spiritual juga.
Selain itu juga adanya analisa pemikiran para tokoh juga mampu dijadikan acauan atau ukuran dalam menentukan langkah. Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Walisongo semarang dalam setiap bab dalam bukunyapun memberikan simpulan atas apa yang sudah dipaparkan. Di situlah muncul interpretasi maupun amunisi untuk umat Islam membangun peradaban Islam yang dulu menjadi pesain peradaban barat, dan cina. Seolah sangat mengharapkan terwujudnya kekuatan manusia yang kokoh dalam bingkaian Islam yang nantinya meraih kembali masa keemasan Islam.
Dalam penulisan buku ini tentunya masih ada secercah kesalahan manusiawi, yang tidak mempengaruhi substansi. Seperti halnya pemilihan kata yang tidak linier karena memang gaya penulisan dari sosok Rikza yang santai, sehingga berpengaruh pula pada pemilihan kata. Terkadang ada pula kalimat yang masih membingungkan secara substansi, sehingga penulis harus memberikan kalimat susulan yang bertujuan menjelaskan. Selain itu juga secara teknis penulisan daftar isi yang tidak sesuai.
Selain itu juga terdapat kekurangan dalam memunculkan tokoh Islam yang kemudian mampu dibandingkan dengan pemikir barat. Sebab, dengan demikian akan lebih memberikan jaminan bahwa memang produk Islam itu mampu menandingi. Dengan begitu corak pemikiran Islam dengan yang lain akan mampu dibaca dengan jelas.
Walaupun masih terdapat kekurangan dalam buku ini, alangkah bahagianya jika semua kalangan umat manusia membaca buku ini. Sebab, sangat jarang ada buku yang menyajikan sesuatu yang penting-penting saja. Apalagi harganya yang mampu dijangkau oleh semua kalangan. Oleh karena itu, silahkan mengenali Islam melalui buku ini. Selamat berpetualang dengan mata, pikiran, dan uang untuk mendapatkan khazanah intelektual keIslaman dari buku ini. Selamat membaca dan menikmati! Wa Allahu al A’lam bi al Shawwab


Kamis, 25 April 2013

coretan di RimaNews

Mengembalikan Ruh Pemimpin

Oleh : Nur Faizah Rahmawati*
Pendidikan moral merupakan pendidikaan yang sangat urgent untuk bekal  menjawab tantangan zaman yang semakin kronis. Dekadensi moral memang sudah menjamur di negara yang konon mayoritas penduduknya beragama Islam. Padahal, agama islam adalah agama yang sangat erat kaitannya dengan yang namanya moral bahkan, dalam kajian Islam ada spesifikasi bab yang membahas tentang moral. Namun, semua itu belum cukup sebagai peringatan dan pengajaran bangsa indonesia. Untuk menyikapi permasalahan tersebut, Negara khususnya menteri pendidikan berkewajiban merealisasikan adanya pendidikan karakter bangsa masuk sebagai mata pelajaran di sekolah.
Bayangkan saja jika pendidikan moral mampu dipahami betul oleh para generasi negri ini, maka nama baik negri ini mampu dipertahankan, setidaknya melalui moral anak bangsa. Telah kita ketahui bersama bahwa moral merupakan tolak ukur  kekuatan suatu bangsa terlebih dari para generasi muda. Generasi muda memang pemegang kendali nasib bangsa, karena pemudalah yang melatar belakangi tumbangnya kejahatan otoriter yang  sangat menyesakkan gerak dalam bertindak. Namun realita sekarang berbanding terbalik dengan komitmen para panji negara yang dulu berkobar asa menumpas tindak kejahatan salah satunya adalah tindak otoriter dari sang penguasa.
 Ironisnya sekarang ini kejahatan tersebut pelakunya adalah para pemuda yang seharusnya membawa negara ini kepada kebaikan baik secara ekonomi, sosial, budaya, serta pendidikan. Banyak kasus yang muncul karena ulah para pemuda, contoh kecilnya adalah musim tawuran pelajar. Tawuran merupakan salah satu bentuk kejahatan di dunia pendidikan. Mereka berasumsi bahwa sebagai  siswa terutama mahasiswa menengah atas (SMA)merasa bangsda atas hal tersebut. Inilah benih yang akan menghancurkan negara. Padahal, merekalah (kaum terpelajar) yang diharapkan oleh bangsa untuk mengubah nasib negri ini.
Pendidikan hanya sebagai batu loncatan mendapatkan pengakuan status. Bagaimana mungkin bisa mengaplikasikan negara yang tentram sejahtera, sedangkan tonggak negaranya bermoral amburadul? Ibarat bangunan berlantai dua namun, hanya berpondasi bambu. Hal inilah yang menyebabkan nasib bangsa berada di awang-awang (tidak jelas). Kalau seperti itu siapa lagi yang akan menggantikan pak Bye, dan membawa negara indonesia menjemput nasib baik.
Permasalahan moral
Setiap ketidak berhasilan pasti ada problem yang menghapiri, tak terkecuali permasalahan moral. Negara ini bisa dikategorikan tidak berhasil dalam hal akhlak. Sebab, banyak sekali timbul permasalah jika berkata tentang moralisasi. Padahal kerusakan moral akan berdampak pada eksistensi kekuatan negara dalam hal SDM, terutama generasi penerus bangsa. Salah satu faktor penyebab kerusakan pada moralisasi diantaranya adalah pola kasih sayang orang tua. Dalam hal ini orang tua tidak turun langsung mengasuh anaknya, akan tetapi diwakilkan orang lain. Pola yang seperti ini masih tergolong sedikit wajar. Lebih iroonis, jika pola pengasuhan anak  yang seperti bola pimpong sembunyi tangan.
Dalam hal ini orang tua seolah tidak mempedulikan perkembangan anak dikarenakan alasan karir. Orang tua seperti ini lebih suka memakai jasa pengasuh sementara. Mereka akan saling menyalahkan jika ada ketidak beresan melanda moral anak mereka, akibatnya cek-cok tak bisa dikendalikan. Kasus seperti ini sangat sering terjadi, anehnya juga tidak pernah dijadikan “kaca” oleh masyarakat yang lain. Yang kedua adalah lingkungan dimana lingkungan adalah paling besar pengaruhnya. Lingkunganlah yang menentukan jadi apa kelak. Ada pepatah mengatakan “jika kalian bersama dengan pembuat besi maka kalian akan terluka, atau paling tidak terkena debunya. Jika kalian bersama dengan orang yang menjual parfume maka kalian akan merasakan wanginya, walaupun hanya sedikit” pernyataan ini memberikan pilihan bahwa penentu karakter adalah dari dalam diri sendiri. Yang ketiga adalah agama. Di negara ini konon mayoritas beragama islam, yang mana telah mempunyai aturan main sendiri mengenai moral beserta pelanggarannya. Jika pemeluk islam merasa jiwa keislaman, tidak hanya status di kartu penduduk, maka problem moral tidak akan ada kendala. Jika kesemuanya itu dibenahi, maka problem moral bisa teratasi.
Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter baru muncul pada akhir abad ke 18. Pendekatan ini melalui pendekatan spiritual dan idealis yang kemudian dikenal dengan pendidikan normatif. Sebenarnya pendidikan karakter bukanlah sesuatu yang baru lagi. Karena sebelum Muhammad Nuh menggembar-gemborkan pendidikan karakter berdiri sebagai mata pelajaran baru, para guru besar seperti R.A Kartini, Ki Hajar Dewantoro dan lainnya telah lebih dulu start menerapkaan semangat pendidikan karakter bangsa sesuai keadaan bangsa saat itu.
Jika baru sekarang pendidikan karakter di terapkan yangmana sudah terlanjur rusak, maka pemerintah dinyatakan baru sadar dari tidur panjangnya. Andaikan saja pemerintah tidak terjaga dari tidur, maka akan selalu mencoba meneruskan apa yang telah dilakukan oleh guru-guru besar. Bukannya baru sekarang memprimadonakan pendidikan karakter bangsa. Memang terkadang sesuatu yang baru pada dasarnya bukan baru lagi melainkan sudah basi. Namun jika sesuatu itu relevan dengan permasalahan yang ada, bertindak adalah yang terbaik daripada hanya membisu.
Mungkin baru juga baru menyadari kalau karakter pemimpin negara telah musnah tak bersisa. Dengan latar belakang inilah pendidikan karakter bangsa di nyalaka lagi, sehingga dengan adanya pendidikan karakter bangsa diharapkan rasa nasionalisme para generasi penerus akan lebih kuat dan mempu membawa negara ke arah kegemilangan. Selain itu juga mampu melahirkan para pemuda yang mempunyai jiwa kepemimpinan yang idealis, dan mampu mengatasi masalah tanpa masalah. Wa allahu al a’lam
_____________________________________________________________
*Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang